Apa Itu Skizofrenia? Ini Pengertian, Gejala, hingga Cara Penanganannya

Share

Makassar – Plt Ketua DPD Golkar Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar) Muhammad Iqbal Zafarullah yang nekat melompat ke Sungai Kapuas hingga ditemukan tewas diduga mengidap skizofrenia. Lantas apa itu skizofrenia?
Diketahui awalnya kepolisian menyebut Muhammad Iqbal nekat mengakhiri hidupnya lantaran mengidap depresi. Terbaru, polisi kemudian mengungkap bahwa korban diduga mengidap skizofrenia.

“Diduga alami skizofrenia,” ujar Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aipda Ade Surdiansyah kepada detikcom, Selasa (6/6/2023).

Pengertian Skizofrenia
Mengutip laman Siloam Hospital, Skizofrenia adalah gangguan mental yang cukup serius, dimana penderitanya mengalami kesulitan dalam membedakan khayalan dan realita.

Penderita Skizofrenia kerap mengalami delusi dan halusinasi, sehingga tak jarang dianggap “gila”.

Skizofrenia merupakan masalah kesehatan jangka panjang yang memerlukan perawatan berkelanjutan. Artinya, penderita skizofrenia perlu menjalani perawatan seumur hidup untuk mengontrol gejala, mencegah komplikasi, dan membantu mereka dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

Faktor pemicu:

1. Faktor Genetik
Kondisi skizofrenia dapat dipicu oleh faktor genetik atau keturunan. Apabila terdapat salah satu keluarga inti yang terkena gangguan ini, maka anggota keluarga lainnya berisiko mengalami hal serupa.

Selain itu, infeksi virus atau kekurangan nutrisi saat di kandungan juga bisa menjadi pemicunya.

2. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan juga bisa menjadi pemicu. Hidup di lingkungan yang penuh tekanan sehingga mengalami stres berat dapat memicu seseorang mengidap skizofrenia.

3. Perbedaan Struktur Otak
Meski tidak diketahui secara pasti apa penyebab skizofrenia, namun terdapat dugaan bahwa gangguan kejiwaan ini berkaitan dengan perbedaan struktur otak.

4. Masalah Keseimbangan Kimia di Otak
Selain faktor perbedaan struktur, masalah keseimbangan kimia di otak juga bisa menjadi pemicu. Zat kimia dalam otak yang dimaksud yakni dopamin dan glutamat.

5. Penggunaan Obat-obatan Tertentu
Skizofrenia juga bisa disebabkan oleh penyalahgunaan obat-obatan terlarang seperti narkotika.

Tanda dan Gejala Skizofrenia
Mengenali tanda dan gejala dari skizofrenia penting sebagai deteksi dini. Orang dengan skizofrenia (ODS) biasanya didiagnosis antara usia 16 dan 30 tahun, setelah episode psikosis pertama.

Lantas apa saja tanda dan gejalanya?

Mengutip laman National Institute of Mental Health gejala skizofrenia dapat berbeda dari orang ke orang. Namun, umumnya gejalanya terbagi dalam tiga kategori utama yakni psikotik, negatif, dan kognitif.

Gejala Psikotik
Gejala psikotik ini dalam beberapa literatur lain biasa disebut dengan gejala positif. Disebut positif karena merupakan gejala yang mencolok dan cukup mudah dikenali.

Melalui gejala ini keluarga dapat curiga terhadap perilaku abnormal dari penderita skizofrenia.

Adapun gejala psikotik meliputi:

1. Halusinasi

Kondisi ini yakni ketika seseorang melihat, mendengar, mencium, mengecap, atau merasakan hal-hal yang sebenarnya tidak ada.

Mendengar suara adalah hal biasa bagi penderita skizofrenia. Orang yang mendengar suara mungkin mendengarnya dalam waktu lama sebelum keluarga atau teman menyadari adanya masalah.

2. Delusi

Kondisi ini ketika seseorang memiliki keyakinan kuat yang tidak benar bahkan mungkin tidak rasional bagi orang lain.

Misalnya, seseorang yang mengalami delusi percaya bahwa orang-orang di televisi mengirimkan pesan khusus untuk meminta pertolongan.

3. Gangguan Pikiran

Kondisi ini ketika seseorang memiliki cara berpikir yang tidak biasa atau tidak logis. Orang dengan gangguan pikiran mungkin kesulitan mengatur pikiran dan ucapan mereka.

Terkadang seseorang akan berhenti berbicara di tengah pemikiran, melompat dari satu topik ke topik lain, atau mengarang kata-kata yang tidak memiliki arti.

4. Gangguan Gerakan

Yakni ketika seseorang menunjukkan gerakan tubuh yang tidak normal. Orang dengan gangguan gerakan dapat mengulangi gerakan tertentu berulang kali.

Gejala Negatif
Gejala negatif ini termasuk kehilangan motivasi, kehilangan minat atau kesenangan dalam aktivitas sehari-hari.

Penderita akan menarik diri dari kehidupan sosial, bahkan kesulitan untuk menunjukkan emosi.

Gejala negatif ini kerap disalahartikan sebagai gejala depresi atau gangguan mental lainnya.

Gejala negatif skizofrenia meliputi:

Kesulitan merencanakan dan bertahan dengan segala aktivitas, seperti belanja bahan makanan
Mengalami kesulitan mengantisipasi dan merasakan kesenangan dalam kehidupan sehari-hari
Berbicara dengan suara yang membosankan serta menunjukkan ekspresi wajah yang terbatas
Menghindari interaksi sosial atau berinteraksi dengan cara yang canggung secara sosial
Memiliki energi yang sangat rendah dan menghabiskan banyak waktu dalam aktivitas pasif. Dalam kasus ekstrim, seseorang mungkin berhenti bergerak atau berbicara untuk sementara waktu, yang merupakan kondisi langka yang disebut katatonia

Gejala Kognitif
Gejala kognitif pada penderita skizofrenia yakni terdapat masalah dalam perhatian, konsentrasi, dan memorinya. Gejala-gejala ini dapat mempersulit untuk mengikuti percakapan, mempelajari hal-hal baru, atau mengingat janji.

Adapun gejala kognitif yang timbul meliputi:

Mengalami kesulitan memproses informasi untuk mengambil keputusan
Mengalami kesulitan menggunakan informasi segera setelah mempelajarinya
Mengalami kesulitan untuk fokus atau memperhatikan
Jenis-jenis Skizofrenia
Pada laman Siloam Hospital dijelaskan bahwa skizofrenia terbagi menjadi beberapa jenis. Jenis-jenis skizofrenia ini berdasarkan tanda-tanda yang muncul.

Untuk memahami lebih lanjut, berikut ulasannya.

1. Skizofrenia Paranoid
Skizofrenia paranoid merupakan jenis skizofrenia yang paling umum terjadi. Pada skizofrenia paranoid terdapat beberapa gejala utama, yakni delusi dan halusinasi terhadap ketakutan tertentu.

Penderita kondisi ini sering kali memiliki kecurigaan berlebih pada orang-orang di sekitarnya sehingga sulit mengendalikan emosi atau keinginannya.

2. Skizofrenia Katatonik
Kondisi skizofrenia katatonik termasuk paling langka ditemui. Kondisi ini biasanya ditandai dengan gerakan secara tiba-tiba, tidak biasa, dan terbatas.

Selain itu, penderitanya bisa saja beralih dari sangat aktif ke diam dalam sekejap dan sebaliknya. Mereka juga tidak banyak bicara, namun sering meniru ucapan atau gerakan orang lain.

3. Skizofrenia Tidak Terdiferensiasi
Skizofrenia tidak terdiferensiasi menunjukkan berbagai gejala dari tipe skizofrenia lainnya. Misalnya, penderita bisa saja tidak banyak bicara atau berekspresi sekaligus mengalami kebingungan atau paranoid.

Diagnosis Skizofrenia
Untuk mendiagnosis skizofrenia, dokter akan melakukan tanya jawab terkait gejala dan riwayat kesehatan pasien kepada keluarganya. Kemudian dilakukan juga beberapa tes untuk memastikan ada tidaknya penyalahgunaan zat berbahaya atau adanya kondisi medis tertentu.

Selanjutnya, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan penunjang, antara lain:

1. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan ini akan membantu dokter memastikan ada tidaknya masalah lain yang berpotensi menyebabkan gejala skizofrenia.

2. Tes Darah Lengkap
Tes darah bertujuan untuk mengesampingkan masalah medis lainnya yang mungkin menjadi sumber gejala.

3. CT scan atau MRI
Tes pencitraan dengan CT scan atau MRI bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada struktur sistem saraf pusat dan otak pasien.

Selain itu, dokter juga akan melakukan evaluasi kejiwaan dengan mengamati beberapa hal, meliputi:

Mengamati penampilan, perilaku, dan sikap pasien.
Memberikan sejumlah pertanyaan mengenai halusinasi, delusi, suasana hati, penggunaan zat tertentu, hingga latar belakang diri dan keluarga.
Pemeriksaan ini dapat membantu dokter menilai seberapa besar risiko pasien dalam membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Berikut ini beberapa di antaranya sebagaimana dijelaskan dalam laman National Institute of Mental Health.

Perawatan Psikososial
Perawatan psikososial dapat membantu penderita menemukan solusi untuk tantangan sehari-hari dan mengelola gejala saat melakukan aktivitas harian seperti bersekolah atau bekerja. Perawatan ini sering digunakan bersama dengan obat antipsikotik.

Orang yang berpartisipasi dalam perawatan psikososial reguler cenderung tidak mengalami gejala berulang. Contoh perawatan semacam ini termasuk jenis psikoterapi seperti terapi perilaku kognitif, pelatihan keterampilan perilaku, pekerjaan yang didukung, dan intervensi remediasi kognitif.

Perawatan Khusus yang Terkoordinasi
Program perawatan khusus terkoordinasi atau coordinated specialty care (CSC) adalah program yang berfokus pada pemulihan bagi penderita skizofrenia tahap awal. Perawatan ini dilakukan secara tim yang terdiri dari sejumlah spesialis, meliputi psikoterapi, pengobatan, manajemen kasus, dukungan pekerjaan dan pendidikan, serta pendidikan dan dukungan keluarga.

Tim pengobatan bekerja secara kolaboratif dengan individu untuk membuat keputusan pengobatan dengan melibatkan anggota keluarga atau kerabat.

Dibandingkan dengan perawatan biasa, CSC lebih efektif dalam mengurangi gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan meningkatkan keterlibatan dalam pekerjaan atau sekolah.

Skizofrenia di Dunia dan Dampaknya
Mengutip laman WHO, gangguan mental skizofrenia mempengaruhi sekitar 24 juta orang atau 1 dari 300 orang (0,32%) di seluruh dunia. Angka ini berarti 1 dari 222 orang (0,45%) di antara orang dewasa mengalami kondisi tersebut.

Gangguan mental ini paling sering terjadi pada masa remaja akhir dan usia dua puluhan, serta cenderung terjadi lebih awal pada pria daripada wanita.

Skizofrenia sering dikaitkan dengan tekanan dan gangguan yang signifikan dalam bidang pribadi, keluarga, sosial, pendidikan, pekerjaan, dan bidang penting lainnya dalam kehidupan.

WHO juga menyebutkan bahwa orang dengan skizofrenia memiliki 2 hingga 3 kali lipat kemungkinan meninggal lebih awal daripada populasi umum. Hal ini lantaran skizofrenia juga rentan disertai penyakit fisik, seperti penyakit kardiovaskular, metabolisme, dan infeksi.

Selain itu, kondisi sosial juga membuat penderita rentan mengalami pelanggaran hak asasi manusia. Stigma terhadap orang dengan kondisi ini sangat kuat sehingga menyebabkan pengucilan sosial. Tentunya hal ini berdampak pada pemulihan hubungan antara penderita dan lingkungan sosial.

Al Khoriah Etiek Nugraha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Paket
Web PREMIUM

Silahkan isi form di bawah ini untuk proses pembuatan website premium / toko online

[caldera_form id="CF62bf07e4c412d"]

Paket
Company Profile

Silahkan isi form di bawah ini untuk proses pembuatan website company profile

[caldera_form id="CF62bf07e4c412d"]

Cart List